Berita > Berita

Meretas Kebangkitan Bulutangkis Merah Putih

Kamis, 05 Oktober 2006 08:24:54
1086 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

Korbankan Prestasi Sekarang demi Investasi Masa Depan
Prestasi atau investasi? Itulah dua pilihan yang ada di hadapan PB PBSI. Tim bulutangkis Indonesia dituntut berprestasi setelah menuai kegagalan dalam beberapa kejuaraan terakhir. Padahal, di sisi lain, PB PBSI harus mengorbankan prestasi saat ini demi kejayaan bulu tangkis Merah Putih. Akankah Indonesia kembali terpuruk di Asian Games 2006?

Tahun 2006 merupakan salah satu periode kelam dalam perjalanan bulutangkis Indonesia. Merah Putih gagal menem-bus final Piala Thomas 2006, berikutnya juga mengalami nasib serupa di Kejuaraan Dunia 2006. Itu masih ditambah daya saing yang kian menurun di beberapa kejuaraan bintang lima dan enam.

Bahkan, keterpurukan sektor tunggal dan ganda wanita sudah begitu parahnya. Di kancah Asia Tenggara saja Indonesia sulit bersaing. Tren negatif pun tengah menghantui sektor tunggal pria. Taufik Hidayat sudah kehilangan ketang-guhannya. Sementara tidak ada pelapis yang cukup tangguh untuk menggantikannya dalam waktu dekat. Sektor ganda pria pun terus menurun, hanya satu gelar bisa diraih dari lima kejuaraan terakhir yang diikuti.

Jika PBSI tidak segera melakukan perubahan besar, apa yang terjadi di tunggal wanita akan terjadi di nomor-nomor lainnya, kata Joko Supriyanto, pelatih tunggal pria Pelatnas PBSI, kepada Jawa Pos kemarin.

Selama ini, bulu tangkis menjadi lumbung prestasi. Atlet dan pelatih bulutangkis asal Indonesia pun bertebaran di berba-gai negara. Karena itu, sangat aneh jika kemudian tahun ini Indonesia mengalami paceklik gelar.

Tidak berlebihan, jika usai kegagalan di Kejuaraan Dunia 2006, PB PBSI menjadi sasaran tembak. Mereka dianggap kurang becus dalam membangun sistem pelatnas yang mampu melahirkan atlet berprestasi. Ketua Umum PBSI, Sutiyoso, dianggap tidak fokus dalam menjalankan tugasnya.

PB PBSI sudah menyediakan semua fasilitas pendukung bagi atlet untuk berprestasi. Pemainlah yang paling menen-tukan prestasi karena mereka yang ada di lapangan, tegas Rudy Hartono, Kabid Binpres PBSI.

Kegagalan Indonesia, menurutnya, adalah karena pemain yang kurang maksimal dalam berjuang menggapai prestasi. PB PBSI pun berjanji tidak segan untuk mengevaluasi pemain dan pelatih yang dinilai tidak berprestasi. Taufik Hidayat, peraih medali emas Olimpiade 2004 dan juara Kejuaraan Dunia 2005, adalah salah satu yang dibidik.

Makin bertambah usia akan makin menurun prestasi sese-orang. Untuk menjaganya adalah dengan berlatih, itu berlaku juga untuk seorang Taufik, tegas Rudy.

Sejak Agustus lalu, PB PBSI sebenarnya telah mencanang-kan program perbaikan stamina. Pelatih fisik Tahir Djide ditugaskan untuk memoles stamina Taufik dkk. Namun, program itu berjalan kurang maksimal. Tahir Djide harus memperhatikan sisi prestasi atlet. Karena latihan fisik yang terlalu berat bisa berakibat pada menurunnya kemampuan teknis seorang pemain.

Belum lagi adanya fakta bahwa beberapa pebulutangkis senior enggan menjalankan program perbaikan stamina itu dengan sungguh-sungguh. Ada pemain yang menolak latihan fisik, dan PB PBSI terkesan kurang berani mengambil sikap tegas pada mereka. Ini disebabkan sikap tegas bisa bera-kibat pembelotan mereka ke luar negeri. Padahal, kondisi seperti itu memberikan contoh yang tidak baik pada pebulu tangkis muda.

Faktor stamina adalah salah satu penyebab utama menurun-nya prestasi Indonesia. Pebulutangkis Indonesia tidak cukup kuat untuk bermain dengan sistem reli poin, yang membutuh-kan kebugaran prima karena memainkan tempo cepat. Program perbaikan stamina dalam jangka panjang akan meningkatkan daya saing Indonesia jika sukses dijalankan.

Kalau dijalankan dengan maksimal dan baik, stamina pemain kita akan berubah signifikan enam bulan dari program ini mulai dijalankan, papar Rudy.

Pertentangan kepentingan antara prestasi dan investasi itu-lah yang harus dihadapi PB PBSI dengan cerdik. Muncul-nya kondisi tersebut pada awalnya juga akibat pembinaan PB PBSI yang kurang baik. Hingga pebulutangkis Indonesia tidak siap menghadapi perubahan penilaian. Jurang prestasi senior dan junior yang sangat jauh, adalah dampak lain yang lebih sulit dicarikan solusi.

Menjelang Asian Games 2006, PB PBSI akan menekan pebulutangkis senior untuk mencapai prestasi terbaik. Mulai tahun 2007 pun PB PBSI berjanji memberikan kesempatan lebih banyak pada kepada pebulutangkis muda untuk mengikuti kejuaraan di luar negeri.

Pemain harus berlatih dengan sungguh-sungguh, karena dari sana dia akan terasah untuk bisa menentukan strategi per-mainan terbaik untuk menang dalam satu kejuaraan, tuntut Rudy.

Target satu medali emas bagi tim bulutangkis di Asian Games 2006, sebenarnya bukan sesuatu yang terlalu berat. Pasangan ganda campuran Nova Widianto/Lilyana Natsir adalah peringkat teratas dunia saat ini. Taufik pun disebut-sebut memiliki potensi untuk juara jika mau bermain sungguh-sungguh.

PB PBSI harus tegas dan bijak dalam menghadapi masalah yang tengah mereka hadapi. Mereka harus bisa menekan pasukannya untuk menuai prestasi terbaik. Tanpa melupakan pembinaan pemain muda agar bisa berprestasi di kemudian hari. (nanang prianto)

Sumber:indopos.co.id

Berita Berita Lainnya