Berita > Berita

Lebih Baik Satu Atap

Sabtu, 14 Oktober 2006 08:12:27
831 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

KURANGNYA komunikasi antara pengurus dengan punggawa pelatnas dianggap sebagai salah satu penyebab terpuruknya prestasi bulutangkis tanah air. Itu disebabkan PB PBSI menggunakan dua markas. Markas pengurus berada di kompleks Kementerian Olahraga di Wisma Karsa, Senayan, Jakarta. Sementara, pelatnas ada di Pusat Bulutangkis Indonesia (PBI) Cipayung, Jakarta Timur.

Saya rasa komunikasi akan lebih baik jika PB PBSI melakukan kebi-jakan satu atap seperti sebelumnya. Pengurus dan pelatnas semuanya terpusat di sini (PBI Cipayung, red), kata Christian Hadinata, koordinator ganda pelatnas, kepada Jawa Pos.

Dengan teknologi informasi yang sudah begitu maju, komunikasi pengurus di Wisma Karsa dan PBI seharusnya tidak terkendala sama sekali. Mereka bisa saling telepon jika ada sesuatu yang perlu dibica-rakan. Benarkah demkian halnya? Ternyata tidak.

Kedekatan pengurus dan pemain, menurut Christian, adalah sesuatu yang sangat penting dalam melahirkan prestasi bagus. Kebijakan satu atap sangat penting untuk itu. Setiap hari, pengurus bisa mengetahui perkembangan maupun masalah yang dihadapi atlet dan pelatih. Komu-nikai bisa dilakukan secara langsung, dengan suasana yang lebih hidup dari pada komunikasi itu dilakukan lewat telepon.

Pandangan serupa juga disampaikan pelatih tunggal pria, Joko Supri-yanto. Pria asal Solo, Jateng, ini semasa pemain pernah merasakan atmosfer satu atap dan dua atap.

Pada saat itu, saya merasa lebih terayomi ketika semua pengurus juga bermarkas di sini (PBI, red). Pengurus pun bisa mengetahui perkembangan atlet setiap hari, ungkap Joko.

Sejak didirikan 1951, PBSI telah berganti-ganti kantor. Sawangan, Jl. Asia Afrika, Cipayung, Wisma Karsa, dan beberapa tempat lain. Namun, yang paling berpengaruh dalam pembinaan saat ini adalah perkembangan markas PBSI sejak era 1990-an.

Pada era kepemimpina Try Soetrisno, PBSI bermarkas di Jl Asia-Afrika, yang saat ini menjadi kantor Pengda PBSI DKI Jakarta. Para pemain menginap di salah satu mes di dekat Senayan. Karena jumlah lapangan terbatas dan inefisiensi waktu pemain untuk menuju tempat latihan, maka dibangunlah PBI di Cipayung. PBI rampung pada 1992 dan diresmikan mantan Presiden Soeharto.

PBI mulai digunakan sebagai markas PBSI sejak 1993 pada periode kepemimpinan Soerjadi. Pada saat, itu Soerjadi ditunjuk menggantikan Try yang terpilih sebagai wakil presiden. Pada periode tersebut, bulu-tangkis Indonesia mencapai salah satu kejayaannya.

Namun, mulai 1997, pada kepemimpinan Soebagyo H.S., markas PBSI dipecah. Pengurus inti PBSI kembali bermarkas di Jl Asia-Afrika. PBI hanya ditempati pemain, pelatih, dan manajemen pelatnas. Mulai 2002, pada periode kepemimpinan Chairul Tanjung, pengurus inti PBSI kembali pindah ke Wisma Karsa sampai sekarang.

Meski kurang baik dalam menjaga kedekatan pengurus dengan pemain, secara birokrasi kantor di Wisma Karsa mungkin sangat mendukung kinerja pengurus harian, pungkas Christian. (ang)

Sumber:indopos.co.id

Berita Berita Lainnya