Berita / Berita

Indonesia vs China, Final di Perempat Final

Jumat, 24 Mei 2013 19:20:14
1107 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

Ketidakberuntungan membuat Indonesia kembali harus menghadapi China di laga delapan besar sehingga mengukir krisis sejarah bulu tangkis keempat untuk pertama kalinya gagal meloloskan diri ke babak semi final Sudirman Cup. Namun di sisi yang berbeda ketidakberuntungan memaksa pengurus dan pelatih untuk merumuskan strategi jitu serta formasi terbaik membendung sang juara bertahan. Ketidakberuntungan juga ternyata mampu melecut motivasi dan semangat para pemain sehingga tim asuhan Li Yongbo harus menahan nafas hingga partai ke-5 set ke-2 saat Liliyana/Nitya mampu menyamakan kedudukan di angka 19.

Bermula dari sebuah kesalahan kecil, minimnya perhatian terhadap peringkat para atlet Indonesia sehingga sang merah putih tidak mampu bersaing serta mengalahkan China, Denmark, Malaysia dan Thailand dalam bursa seeded unggulan. Ranking para pemain yang kurang memadai hanya menempatkan Indonesia di posisi ke-7 pada turnamen ini sekaligus membuka peluang untuk bertemu dengan salah satu unggulan, termasuk China. Faktor ketidakberuntungan tidak hanya membuat Indonesia harus berada satu grup dengan China, namun kembali melakoni laga kedua di babak delapan besar.

Berdasarkan hasil diskusi tim Indonesia, rumusan jitu akhirnya muncul dengan memainkan rangkap Liliyana Natsir di dua sektor. Selain untuk memanfaatkan peluang terbesar Indonesia yaitu di nomor campuran, strategi ini sekaligus merupakan jalan keluar untuk membendung duo Wang Xiaoli/Yu Yang yang tercatat hanya sekali pernah dikalahkan oleh pasangan non China, Ha Jung Eun/Kim Min Jung.

“Selalu ada strategi dalam setiap pertandingan beregu. Kami harus mampu memenangkan partai pertama untuk memberikan semangat kepada seluruh tim. Oleh karena itu kami menampatkan Liliyana di dua nomor sehingga dia mampu memenangkan poin pertama untuk kami,” ungkap Anton Subowo, Chief de Mission Indonesia.

Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (ToLyn) menantang peringkat satu dunia, Xu Chen/Ma Jin di partai pembuka. Kedua pasangan sempat bermain hati-hati di gim pertama agar tidak terserang oleh lawan dan berada dalam posisi tertekan. Dalam pertandingan yang lebih banyak mengandalkan penempatan di depan net dan bola-bola pendek, permainan save justru membuat kedua pasangan banyak melakukan kesalahan sendiri. ToLyn mampu unggul dan mendominasi paruh awal gim pertama hingga kedudukan 12-8. Empat poin beruntun yang dikoleksi Xu/Ma membuat mereka berbalik unggul 15-13. Usai menyamakan kedudukan di angka 15, Indonesia kembali tertinggal 16-18 namun permainan sempurna Liliyana di depan net serta drive-drive cepat ToLyn yang gagal diantisipasi oleh Xu/Ma membuat merah putih mampu mengumpulkan 5 angka beruntun, 21-18.

Serangan dan pertahanan Indonesia yang mengendur di set kedua memberikan ruang yang leluasa bagi Xu/Ma untuk tampil menekan. Paska memimpin 8-4, keduanya tak terbendung untuk menamatkan gim kedua, 21-14. Xu/Ma kembali sukses mempertahankan momentum dengan ritme permainannya di paruh awal set ketiga. Keduanya meluncur hingga 10-4 dan 13-7. Namun di titik inilah justru motivasi dan semangat ToLyn perlahan mulai bangkit.

Dukungan penonton yang juga tak henti meneriakkan nama keduanya membuat ToLyn akhirnya mampu mengatur ritme dan tidak terburu-buru dalam melakukan serangan. Sergapan Xu/Ma di depan net beberapa kali juga dapat diantisipasi oleh ToLyn dengan baik. Seperti kehabisan akal, justru Xu/Ma yang berbalik dalam keadaan tertekan dan banyak melakukan kesalahan sendiri setelah ToLyn mampu menyamakan kedudukan dan berbalik unggul 14-13. Xu Chen yang beberapa kali gagal menyerobot bola dengan sempurna serta melakukan smash yang menyangkut di depan net seolah-olah menjadi isyarat bagi kemenangan Indonesia. Memimpin hingga 19-15, ToLyn memastikan angka pertama untuk Indonesia, 21-16.

''Pada awal gim ketiga kami banyak tertekan karena masuk irama permainan mereka. Kami kemudian lebih tenang dan tidak memikirkan kalau ketinggalan. Setelah balik memimpin, justru mereka yang tertekan dan kami percaya diri,'' kata Liliyana seperti yang ditulis oleh situs badmintonindonesia.org.

''Pada gim kedua saya gugup karena kepikiran harus menang, harus menang. Tapi saat balik unggul, saya lebih yakin,'' ujar Tontowi.

Xu/Ma sendiri terlihat pasrah dengan kekalahan mereka. Keduanya mengaku kehilangan ritme permainan di gim ketiga karena kurangnya inisiatif dan tidak mampu bermain cepat.

“Pada saat memimpin di gim ketiga, kami kurang inisiatif untuk segera memenangkan pertandingan. Ma sudah bermain baik, tapi saya pribadi merasa masih kurang,” kata Xu Chen.

“Tontowi/Liliyana bermain lebih sabar dari kami. Di awal kami sudah main cepat karena ingin menang, tapi di akhir justru kami lebih pasif dan melambat,” Ma Jin menambahkan.

Dengan hasil ini, ToLyn berhasil mematahkan rekor 10 tahun China tak terkalahkan di sektor campuran pada turnamen Sudirman Cup.

Sang negeri tirai bambu akhirnya menyamakan kedudukan 1-1 setelah pada partai kedua Chen Long kembali sukses menundukkan andalan Indonesia, Tommy Sugiarto. Menghadapi lawan yang sama saat babak penyisihan grup, tidak banyak perubahan yang mampu dilakukan oleh Tomy karena setiap pukulan yang dilancarkan oleh Tomy senantiasa mampu diantisipasi oleh Chen Long. Meskipun kalah jauh 11-21 pada gim pertama, Tommy mencoba bangkit di gim kedua. Usahanya sempat membuahkan hasil, Tommy memimpin perolehan poin 14-10 atas Chen.

“Saat leading 14-10, saya sebetulnya yakin bisa merebut gim kedua. Tapi dia kemudian mengubah permainan dan saya tidak mengantisipasi hal ini,” kata Tommy.

“Saya juga banyak melakukan kesalahan dengan memberi bola-bola tanggung dan pengembalian yang terlalu melebar,” lanjutnya kemudian.

Chen sendiri mengaku hari ini merasa mampu menampilkan permainan terbaiknya dan bermain tanpa beban meskipun Cina tertinggal 0-1. “Ini adalah pertandingan yang cukup berat untuk saya, terutama di gim kedua. Saya mengeluarkan kemampuan terbaik saya dan tidak bermain dibawah tekanan,” lanjut Chen.

Indonesia kembali unggul 2-1 atas China setelah pada sektor ganda putra duet peringkat 10 dunia, Angga Pratama/Rian Agung (AngRi) melewati hadangan dari peraih emas Olimpiade London 2012, Fu Haifeng/Cai Yun. Dalam laga yang juga diwarnai oleh kartu kuning atas aksi pelemparan raket yang dilakukan oleh Fu Haifeng setelah servisnya dianggap fault oleh wasit tersebut AngRi sempat ketinggalan 19-21 di gim pertama karena beberapa kesalahan sendiri khususnya Rian di paruh awal gim. Kekompakan Fu/Cai dalam mengantisipasi bola-bola AngRi khususnya di akhir set membuat China mampu memenangkan gim pertama.

Pertandingan berlangsung makin ketat hingga paruh awal gim kedua. Masing-masing pasangan saling mengejar dan memimpin perolehan poin. Namun paska jeda interval 9-11, AngRi tampil lebih percaya diri dan balik memimpin 13-11. Tekanan smash-smash beruntun yang dilancarkan Indonesia dengan didahului oleh permainan memukau di depan net dan banyak menurunkan bola membuat AngRi memimpin hingga 17-14 untuk kemudian memaksakan rubber game, 21-18.

Stamina muda dan kecepatan yang lebih baik membuat AngRi unggul dalam permainan gim ketiga. Beberapa kali keduanya mampu menekan pertahanan Fu/Cai sehingga mantan tandem nomor satu dunia tersebut harus pontang panting mempertahankan area pertandingannya. Paska kedudukan 7-7, Angri yang terus memimpin perolehan poin kembali sukses menjada konsistensi permainannya untuk terus tampil menekan hingga kedudukan 17-14. Namun meskipun unggul dari sisi serangan, AngRi sayangnya masih terlihat mudah membuang poin dengan melakukan kesalahan sendiri yang menguntungkan pihak lawan. Beberapa tekanan dan penempatan tak terduga yang dilancarkan AngRi membuat pengembalian Fu/Cai seringkali tak sempurna, gagal melewati net atau melebar jauh keluar lapangan. Empat poin beruntun yang dikoleksi AngRi memastikan kemenangan Indonesia, 21-15,

“Kami hanya tampil yakin dan fokus satu demi satu poin. Kami tadi banyak berkomunikasi dan saling mengingatkan satu sama lain,” kata Angga tentang pertandingannya.

“Menurut kami pasangan Cina kalah di stamina dan kecepatan. Kami lebih unggul di bagian in,” Rian menambahkan.

Fu/Cai sendiri merasa tak dapat menemukan ritme permainan. Menurut mereka AngRi mampu mengontrol pertandingan khususnya pada gim kedua.

“Angga/Rian banyak inisiatif di gim kedua. Kami juga tidak kaget Angga diturunkan bersama Rian karena kemarin saat berpasangan dengan Hendra (Setiawan), mereka juga kalah dari kami,” kata Fu usai pertandingannya.

Kekalahan Lindaweni Fanetri atas peraih emas Olimpiade London 2012, Li Xuerui membuat kedudukan kembali imbang 2-2 antara kedua negara. Meskipun secara pukulan Lindaweni lebih baik jika dibandingkan dengan penampilan April di babak penyisihan grup, namun dari sisi pertahanan dan kecepatan Linda masih kalah dibandingkan dengan penantangnya. Antisipasi yang lambat atau bahkan terburu-buru seringkali membuat Linda kewalahan ketika menerima serangan balik dari Xuerui. Sempat mengubah pola permainan di gim kedua, namun kematangan Xuerui yang dapat beradaptasi dengan bola-bola Linda membuat srikandi berperingkat 15 dunia tersebut akhirnya menyerah 16-21, 13-21.

“Saya tak terbebani di pertandingan beregu ini, karena memang ini bukanlah yang pengalaman pertama bagi saya. Tadi saya mencoba untuk enjoy saja, tapi hasilnya seperti ini,” kata Linda usai pertandingannya.

“Pada gim kedua, saya sudah mencoba untuk mengubah pola main saya. Tapi Li langsung peka akan hal ini dan dia bisa menyesuaikan,” lanjutnya kemudian.

Meskipun harus memainkan partai kelima yang merupakan ganda spekulatif, Liliyana Natsir/Nitya Krishinda, para pemain Indonesia tetap semangat saat menghadapi ganda kuat China, Wang Xiaoli/Yu Yang. Tim yang dimanajeri oleh Li Yongbo tetap harus menahan nafas hingga gim kedua di pertandingan ini karena Liliyana/Nitya ternyata mampu menyulitkan duet China yang beberapa kali berusaha untuk tampil menekan. Kehadiran Liliyana di sektor ganda putri seolah-olah memberikan suasana baru di nomor ini karena tidak hanya terampil dalam mengolah bola di depan net namun juga gigih dalam mengembalikan smash-smash keras Wang/Yu karena sudah terbiasa bermain di sektor campuran.

Tertinggal 11-21 di gim pertama, Liliyana/Nitya mampu memimpin jauh 11-7 di paruh awal set kedua. Bola-bola Liliyana di depan net dan penempatan uniknya yang tak terduga beberapa kali terbukti ampuh menyulitkan pasangan China. Namun meskipun unggul dari segi pukulan, kesolidan pasangan Indonesia yang masih kurang seringkali menimbulkan salah pengertian antara keduanya. Kondisi ini dimanfaatkan dengan baik oleh Wang/Yu. Keduanya berusaha untuk terus menekan meskipun beberapa kali mampu dikembalikan oleh Liliyana/Nitya. Tertinggal 1-2 poin, pasangan Indonesia senentiasa mampu menempel ketat Wang/Yu hingga kedudukan 17-19 dengan terus agresif melakukan serangan. Pertandingan menjadi kian menegangkan saat Liliyana/Nitya mampu menyamakan skor di angka 19. China meraih match point lebih dulu dan pengembalian Liliyana yang gagal melewati net memastikan kemenangan China, 21-19.

“Saya adalah pemain spesialis ganda campuran, tetapi saat bermain ganda putri di partai penentuan, saya juga tak mau kalah. Kami cukup menyulitkan Wang/Yu yang sempat menjadi pasangan terkuat dunia yang tak terkalahkan. Mereka juga sepertinya tegang, teriakannya kencang juga,” ujar Liliyana.

“Soal stamina, kalau ditanya pasti lelah. Tapi karena ini permainan beregu dan banyak mendapat dukungan, saya merasa semangat sekali,” tambah Liliyana.

Sementara itu, Rexy Mainaky sebagai Manajer Tim Indonesia mengatakan bahwa hasil ini adalah hasil maksimal yang sudah dicapai timnya.

“Tim kami sudah berjuang maksimal, apalagi ini tim yang terdiri dari pemain muda. Para pemain muda ini menunjukkan performa lebih dari biasanya,” ujar Rexy.

Dalam kesempatan terpisah, kepala pelatih China Li Yongbo mengucapkan selamat kepada tim muda Indonesia. Tim ini memiliki masa depan yang cerah. Melalui penterjemahnya, Li Yongbo mengatakan bahwa pertandingan tadi benar-benar diluar dugaannya. Skor 3-2 menggambarkan betapa ketatnya pertandingan tadi. China sudah lama tidak merasakan situasi sesulit tadi.

“Selamat kepada tim Indonesia yang diperkuat pemain-pemain muda, penampilan hari ini di luar ekspektasi kami. Tim Indonesia tampil nothing to loose, menurut saya bulu tangkis Indonesia mengalami kemajuan. Sayang sekali Indonesia harus bertemu Cina di perempat final, jika bertemu tim lain, dengan penampilan tadi Indonesia saya rasa akan lolos ke semifinal,” ujar Li Yongbo.

Cina juga sebetulnya berharap Indonesia tidak menurunkan susunan pemain seperti hari ini dimana ganda campuran dimainkan di partai pertama. Karena menurut Li, susunan ini bukanlah susunan terbaik bagi tim Cina. Ia juga menyayangkan kekalahan Cai Yun/Fu Haifeng di partai ketiga yang membuat Cina kembali tertinggal dari Indonesia.

“Saya menyesali kekalahan Cai/Fu di ganda putra, seharusnya mereka bisa menang. Selain itu keputusan hakim servis yang menyalahkan servis Fu juga sangat disayangkan,” ungkap Li.

Dominasi China yang berhasil mengoleksi delapan gelar di turnamen ini merupakan rekor terbaik sepanjang sejarah. Li pun berharap sukses Cina dapat diikuti negara-negara lain.

“Cina sudah terlalu sering memenangkan Piala Sudirman. Ada bagusnya juga jika negara lain yang menang, jangan Cina terus. Jika kami berhasil menang kali ini mungkin tidak jauh berbeda dibanding sebelumnya. Namun selama penonton bisa menikmati pertandingan yang bagus, tidak ada masalah,” pungkas Li.

Dengan hasil ini Indonesia kembali mencatat krisis sejarah bulu tangkis ke-4 untuk pertama kalinya gagal ke semifinal. Sebelumnya di tahun 2006 tim Uber Cup mencatat hasil buruk pertama dengan gagal meloloskan diri ke putaran final dan kalah di penyisihan benua Asia. Pada tahun 2012 ada dua krisis sejarah yang dialami bulu tangkis Indonesia yaitu untuk pertama kali gagal ke semifinal Thomas Cup dan terputusnya tradisi emas bahkan medali cabang bulu tangkis di Olimpiade. Namun meskipun kali ini gagal, seperti yang diungkap Li Yonbo faktor ketidakberuntungan sepertinya memegang peranan terbesar karena para pemain Indonesia mampu membuktikan kualitas dan semangat juangnya dengan mengubah kedudukan 0-5 pada babak penyisihan grup menjadi 2-3.

Belanda Taklukkan Perancis, Ukraina dan Vietnam Juara Grup

Jika pada hari sebelumnya Skotlandia berhasil mengantongi juara grup A diikuti oleh Rusia, Swedia dan Amerika Serikat. Kali ini giliran tim oranye yang memastikan posisi juara grup B dengan menundukkan Perancis 4-1. Satu-satunya kekalahan Belanda justru terjadi di sektor tunggal putra saat Eric Pang gagal menjinakkan Brice Leverdez. Sementara itu di divisi 3, Ukraina dan Vietnam sama-sama memastikan diri sebagai juara grup usai mengantongi kemenangan ke-4.

Secara pengalaman dan kekuatan tim meskipun beranggotakan minimal sebanyak 6 orang, Belanda memang masih lebih baik dibandingkan Perancis. Hal tersebut dibuktikan oleh sang negeri kincir dengan empat poin kemenangan. Namun kejutan justru terjadi di sektor tunggal putra saat Eric Pang menelan kekalahan dari wakil Perancis, Brice Leverdez. Melalui laga tiga gim berdurasi hampir satu jam, Brice mencatat kemenangan 21-15, 19-21, 21-13. Hasil ini sekaligus membalas kekalahan Brice pada dua pertemuan sebelumnya di turnamen All England Open SS Premier 2012 dan Kejuaran Eropa 2012.

Namun di sektor ganda, Ruud Bosch dan Selena Piek tetap tak mampu dibendung oleh Baptiste Cereme dan Audrey Fontaine. Tiga poin dari sektor ganda ditambah satu angka dari sektor tunggal putri yang disumbang Patty Stolzenbach memastikan gelar juara untuk Belanda, 4-1. Posisi ketiga akhirnya direbut oleh Kanada usai menghentikan perlawanan Austria 4-1.

Kemenangan telak 5-0 atas Selandia Baru memastikan posisi teratas grup A divisi tiga akhirnya menjadi milik Ukraina. Sementara itu Vietnam merebut keunggulan tipis 3-2 atas Swiss. Nguyen Tien Minh tanpa kesulitan memetik kemenangan telak 21-3, 21-5 atas Lukas Nussbaumer. Sementara itu Sabrina Jaquet menjadi pahwalan Swiss usai mengalahkan Vu Thi Trang, 21-13, 13-21, 24-22. Sabrina bersama Anthony Dumartheray kembali menyumbang poin kedua bagi Swiss dengan menundukkan Do Tuan Duc/Le Thu Huyen, 21-12, 21-14.

Unggul 3-2 atas Turki memastikan posisi runner up akhirnya menjadi milik Filipina disusul kemudian oleh Selandia Baru, Sri Langka dan Turki. Sementara itu Australia menempati posisi kedua grup B dengan menekuk Kazakhstan, 5-0. Kekalahan tipis 2-3 Swiss atas Vietnam menyebabkan negara tersebut harus puas di peringkat ke-3 disusul oleh Lithuania dan Kazakhstan. Masing-masing peringkat 1-4 grup A dan B di divisi 2 maupun ranking 1-5 grup A dan B di divisi 3 akan saling beradu untuk memperebutkan peringkat umum dari 30 negara yang berpartisipasi di turnamen ini. (FEY)

Berita Berita Lainnya