Berita > Artikel

Catatan Ringan Ian Situmorang
Ke Qatar dengan Semangat Datar

Jumat, 10 November 2006 11:59:01
1267 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

Seorang pria gagah berserban tengah naik kuda. Tangan kiri memegang tali kekang, obor yang menyala digenggam di kanan.

Ini memang kuda ajaib sebab dapat dipacu melintasi samudera dan dengan mudah singgah di banyak negara. Hebatnya, setiap kehadirannya membawa terang.

Pembaca, langkah kuda seperti itu hanyalah rekayasa komputer yang diciptakan sebagai alat promosi. Adegan ini sering ditayangkan di slot komersial ESPN untuk melukiskan perjalanan obor ke 15 negara dengan jarak tempuh 50 ribu kilometer sejak 8 Oktober.

Qatar, tuan rumah Asian Games (AG) ke-15, ingin menyampaikan pesan bahwa pesta olahraga Asia diadakan demi kemakmuran bersama. Qatar mau berbagi suka bersama negara-negara Asia melalui olahraga. Membangun kebersamaan dengan semangat kompetisi yang sehat.

Persiapan Doha, ibu kota Qatar, dianggap sudah memadai. Memang berbagai persoalan masih mengkhawatirkan, termasuk minimnya kamar-kamar hotel untuk menampung puluhan ribu pendatang selama AG berlangsung pada 1-15 Desember.

Sebanyak 45 negara ambil bagian dan bertarung di 46 cabang. Hampir semua venues dengan dukungan teknologi modern rampung sudah. Negeri mini yang berpenduduk 744 ribu orang dengan luas wilayah 11.437 km persegi itu telah siap.

***
Tuan rumah tentu tak berpikir merebut posisi nomor wahid pengumpul medali. Kesuksesan menjadi tuan rumah merupakan target realistis. Berharap merebut medali melebihi pencapaian empat tahun silam, 4 emas, 5 perak dan 8 perunggu, bolehlah.

Dalam urusan medali, Cina memang terunggul. Empat tahun lalu di Busan, negeri berpenduduk 1,3 miliar ini memproduksi 150 emas, 84 perak, dan 74 perunggu. Apakah perolehan ini akan makin besar atau merosot? Boleh jadi peningkatannya tidak tinggi atau bahkan mungkin sedikit menurun.

Analisis apa ini?

Bagi banyak kontestan, AG Qatar adalah titik kulminasi prestasi. Lain halnya dengan Cina, AG ini merupakan sasaran antara. Karena itu, ada kemungkinan besar atlet yang diturunkan adalah yang setengah matang. Harapannya: dua tahun ke depan sudah siap.

Anda tentu paham tujuannya. Dua tahun ke muka, Cina akan menjadi tuan rumah Olimpiade 2008. Menjadi nomor satu dunia bukan impian kosong bagi Cina, yang pada Olimpiade Athena 2004 meraup 32 emas, 17 perak, dan 14 perunggu.

Reputasi atlet Cina belakangan ini makin menggila dan merata di banyak arena. Cabang-cabang terukur yang menjadi lumbung emas, atletik dan renang, tak lagi dominasi Amerika Serikat dan Eropa Timur.

Lawan lama yang sering memberi perlawanan ketat, Korsel dan Jepang sepertinya dengan mudah dilibas. Kemajuan negara-negara Arab belum kuasa mengatasi kemajuan pesat Cina. Karena itu, dengan materi atlet muda, Cina masih tetap perkasa di posisi teratas.

Melihat kegagahan Cina, saya merasa tak lagi pantas membandingkan atlet kita dengan mereka. Ketika rekor atletik Cina meningkat, kita malah menjauh dari kompetisi dengan tak mengikuti satu pun nomor atletik.

***
Biarlah Cina melangkah dengan caranya sendiri. Indonesia mencatat ceritanya sendiri. Sepanjang sejarah AG, yang dimulai pada 1951 di New Delhi, Indonesia menjadi satu di antara 10 negara yang tak pernah absen hingga pelaksanaan ke-15 di Qatar.

Selama 14 kali AG dalam rentang 52 tahun, putra-putri terbaik Indonesia mengoleksi 50 medali emas. Tak perlu membandingkan dengan Cina, yang sekali langkah di Busan melibas 150 emas. Budaya dan karakter sosialnya memang beda, ‘kan?

Saya tak tahu berapa emas target Cina tahun ini. Yang jelas Indonesia, dengan kekuatan 129 atlet, mengincar empat medali emas.

Dengan target seperti ini di Qatar, berarti semangat berkompetisi kita datar juga. Maklum, harapannya hanya ingin menyamai pencapaian empat tahun silam di Busan dengan 4 emas, 7 perak, dan 12 perunggu.

Sebagai bahan pembanding, lihat saja hasil negara tetangga di AG Busan: Thailand (14-19-10), Malysia (6-8-16), Singapura (5-2-10), dan Vietnam (4-7-7).

Dari mana 4 emas itu ditambang? Pasukan Ketua Umum KONI Pusat, Agum Gumelar, cukup percaya diri menyebut bulutangkis, karate, boling, dan balap sepeda. Kalau tercapai, bagus! Jika melebihi, syukur! Kalau di bawah target? Ah, itu kebangetan!

Belakangan ini, beberapa rekan sering bertanya. Kenapa prestasi olahraga kita sulit beranjak? Kenapa di kalangan petinggi banyak muncul silang pendapat?

Saya tidak kapabel memberi jawab sahih. Tapi, boleh juga dong memberi opini. Hadirnya kembali kantor Menpora seharusnya menjadi momen kebangkitan dengan jiwa neogenerasi. Ternyata berjalan kurang mulus.

Di sisi lain, KONI sebagai motor pemompa prestasi belum juga lepas dari karakter gerak lambat, sangat lamban dengan perspektif kuno. Hal ini boleh jadi muncul karena motor penggeraknya sudah out of date.

Menyimak berbagai problem di lingkungan olahraga kita memang tak dapat diselesaikan dengan konsep cepat saji. Hubungan Menpora Adhyaksa Dault dengan Agum Gumelar yang belum mulus adalah persoalan serius, walau sering disembunyikan.

Buat saya, polemik enggak apa-apa, asalkan prestasi tercapai, daripada tampak akur tapi prestasi anjlok. Pilihan sulit, ya? (bolanews.com)

Berita Artikel Lainnya