Berita > Artikel

Masa Depan Tunggal Putra Indonesia

Rabu, 23 April 2014 21:47:27
2568 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

Melihat situasi saat ini dimana Tommy Sugiarto dibelit cidera, Sony Dwi Kuncoro yang rawan cidera, Dionysius Hayom Rumbaka yang belum bertaring dan pemain-pemain muda lainnya yang belum menunjukkan prestasi, wajarlah jika kita sangat khawatir akan masa depan sektor tunggal putra Indonesia.

Kita sempat mendapat hawa segar, dimana secara mengejutkan Simon Santoso meraih gelar juara di dua turnamen secara beruntun. Setelah meraih juara di kelas grand prix pada Malaysia Open Grand Prix Gold 2014, lanjut di kelas super series pada Singapore Open Super Series 2014. Langkah Simon di Singapura sungguh mengejutkan, Simon yang merintis dari babak kualifikasi bisa menjadi juara mengalahkan pemain nomor satu dunia Lee Chong Wei dari Malaysia. Namun kemenangan itu belum bisa kita jadikan sebagai indikasi akan cerahnya masa depan tunggal putra Indonesia. Simon memang come back, tapi umur Simon sudah tidak muda lagi. Jika seandainya hal tersebut dilakukan oleh Riyanto Subagja atau Wisnu Yuli Prasetyo, mungkin sekarang kita bisa berlega hati.

Wajar juga jika kita sangat kecewa dengan gagalnya sektor tunggal putra mendulang medali emas di ajang Asian Junior Championships dan World Junior Championships 2014. Dimana di ajang AJC/WJC ini kita mengharapkan munculnya penerus tunggal putra Indonesia.

Melihat peta persaingan tunggal putra saat ini memang terlihat diisi oleh dua nama yaitu Lee Chong Wei dan Chen Long dari China, serta mungkin pebulutangkis China lainnya, Lin Dan jika sang maestro memutuskan untuk come back. Akan tetapi menurut saya, ini sebenarnya kesempatan besar untuk Sony dan Simon untuk bisa berbicara banyak. LCW dan CL sekali-sekali bisa terpeleset juga, kesempatan pemain-pemain tunggal putra kita seperti Sony, Simon, Tommy dan Hayom untuk bisa berbicara lebih. Menurut saya, kualitas skill dan pengalaman seorang Sony dan Simon masih di atas kualitas pemain ranking 3-10 dunia saat ini sebut saja Jan O Jorgensen [Denmark], Kenichi Tago [Jepang], Du Pengyu [China] dan lain-lain. Untuk Tommy dan Hayom minimal setara dengan pemain-pemain rank 3-10 tersebut. Betapa hebatnya jika ke empat andalan kita tersebut (Sony, Simon, Tommy dan Hayom) bisa menjadi peluru menjatuhkan kedigdayaan LCW dan CL dan silih berganti berada di podium juara di berbagai turnamen.

Namun semua itu masih hanya menjadi mimpi saya. Di tahun 2013, kita baru melihat kebangkitan Tommy dan kadang-kadang Sony jika kondisinya sedang fit. Untuk Simon, tahun 2013 mungkin tahun kelam dalam karirnya dan kita bersyukur Simon sudah menunjukkan indikasi kebangkitannnya dan semoga terus konsisten. Untuk Hayom, saya sudah speechless, tidak tahu apa sebenarnya permasalahan yang ada dalam diri Hayom, saya hanya bisa berdoa, semoga Hayom bisa lekas menemukan jati dirinya dan bisa berprestasi. Semoga selepas Thomas dan Uber Cup 2014 ini mimpi saya tersebut bisa terwujud.

Bagaimana dengan penerus Tuggal Putra Indonesia?

China punya Lin Dan dan Chen Long dan di bawahnya sangat banyak pelapis - pelapis seperti Wang Zhengming, Chen Yeuken, Tian Houwei, Xue Song dan baru-baru ini ada Lin Guipu dan Shi Yuqi. Denmark punya Jan O Jorgensen dan di bawahnya ada Viktor Axelsen. Jepang punya Kenichi Tago di bawahnya ada Kento Momota. Indonesia punya Sony, Simon dan Tommy, lalu dibawahnya? Nama Wisnu Yuli Prasetyo dan Riyanto Subagja belum bisa kita sebut sebagai pelapis. Jika kita perbandingkan prestasi Wisnu dan Riyanto dengan Tian Houwei, Viktor dan Kento, Gap Wisnu dan Riyanto dengan pemain tersebut dapat dikatakan masih cukup jauh.

Tian Houwei yang seumuran dengan Wisnu (1992) sudah mencicipi gelar Grand Prix Gold dan banyak mempersulit pemain-pemain unggulan di turnamen Super Series/ Super Series Premier, bahkan pernah mengalahkan Lee Chong Wei. Dengan demikian terlihat kualitas permainan Houwei sudah jadi, tinggal mengasah pengalaman. Viktor yang kelahiran 1994, sewaktu berumur 17-18 tahun, Viktor sudah merasakan bagaimana mengalahkan Taufik Hidayat, Sony Dwi Kuncoro, Kenichi Tago, Sho Sasaki, Wang Zhengming dll. Viktor juga sudah pernah meraih Semi Final dan Final turnamen Super Series dan Juara di turnamen GPG. Kento Momota sang Juara Dunia Junior 2012, sudah mencicipi QF/SF turnamen Super Series, permainannya sudah bisa mengimbangi pemain-pemain top dunia. Dari melihat skill dan kematangan permainan, Kento tinggal menunggu waktu saja untuk berprestasi.

Lalu bagaimana dengan tunggal putra Indonesia? Karena Wisnu dan Riyanto belum bisa menyamai prestasi-prestasi Tian, Kento dan Viktor, maka mata kita tertuju kepada pemain potensi dibawah Wisnu dan Riyanto yaitu Rivan Fauzin Ivanudin, Ihsan Maulana Mustafa, Muhammad Bayu Pangisthu, Anthony Sinisuka Ginting, Jonatan Christie dan Firman Abdul Kholik. Saya berharap keenam pemain muda kita tersebut bisa meraih gelar-gelar juara di tahun ini minimal di level International Challenge dan sudah bisa wara- wiri di Quarter Final/ Semifinal turnamen GPG. Di tahun 2015, mereka sudah bisa juara di level GPG dan mencicipi turnamen SS/SSP. Untuk Wisnu dan Riyanto, harusnya tahun ini sudah mencicipi gelar GP/GPG.

Saya sangat berharap sekali Pengurus PBSI bisa memaksimalkan pemain-pemain potensi kita, dan bisa mencetak mereka menjadi pemain bermental Juara. Saya yakin dari segi skill, pemain-pemain potensi kita tidak kalah dari negara-negara lain. Namun skill saja tidak cukup, mental juara juga sangat dibutuhkan. Jika di Olympiade 2004, kita punya Taufik Hidayat yang meraih Medali Emas dan Sony Dwi Kuncoro meraih perunggu. Saya mengkhayal di Olympiade 2020 terjadi All Indonesian Final sektor tunggal putra.

Semoga! (*)

Catatan : Bisa
Senin, 21-April-2014, 13:13:28
Forum diskusi http://www.bulutangkis.com/mod.php?mod=diskusi&op=viewdisk&did=13406> Bulutangkis.com

Berita Artikel Lainnya