Berita / Berita

Gita Sederhanakan Organisasi PBSI

Sabtu, 27 Oktober 2012 01:23:07
867 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

Ketua Umum PB PBSI periode 2012-2016 Gita Wirjawan menyatakan siap tempur untuk mengembalikan kejayaan bulutangkis Indonesia seperti era keemasan sebelumnya. Dia menyebut sangat optimistis karena dirinya didukung anggota kabinet PBSI yang solid.

Menurut Menteri Perdagangan RI ini, pengurus organisasi bulutangkis yang dipimpinnya sekarang diisi personel yang kapabel, profesional, dan memiliki komitmen tinggi untuk bersama-sama memajukan olahraga tepok bulu yang belakangan ini merosot prestasinya.

Untuk meraih kembali supremasi bulutangkis Indonesia, berbekal kemampuan aspek manajerial yang sudah dikuasai, baik sebagai profesional, pengusaha, bankir, hingga birokrat, dirinya yakin akan mampu berbuat sesuatu untuk bangsa dan negara. Untuk mewujudkannya, yang pertama dibenahi adalah menyederhanakan struktur organisasi di PBSI.

''Organisasi PB PBSI saya bikin lebih sederhana ke dalam empat kotak. Yaitu, pengembangan, keuangan, dana dan usaha, serta pembinaan dan prestasi,'' tutur Gita, dalam acara obrolan sambil santap makan di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis (25/10).

Pada akhir November, bersama pengurus dirinya akan segera membuat semacam business plan. Seluruh bidang akan segera membuat program unggulan dengan muara harus bisa membuat prestasi setinggi mungkin. Dengan begitu, PBSI akan siap tempur menghadapi kompetisi tahun 2013.

''Kita siap tempur. Tetapi syaratnya semua harus kerja keras,'' tegas Gita, yang ditemani Kasubid Humas dan Social Media, Ricky Soebagdja.

Berbekal personel yang solid, Gita yakin dalam tiga tahun ke depan, buah kerjanya akan terlihat. Apalagi sejak awal dia juga akan menerapkan sistem manajerial yang mumpuni.

''Saya tidak hanya ingin menciptakan seorang superstar tetapi juga ingin menciptakan sebuah sistem yang bisa membuahkan superstar,'' tambahnya.

Ke depan, pola pembinaan prestasi yang diterapkan di Pelatnas Cipayung harus bisa menarik talenta-talenta muda yang potensial. Dahulu, pemain seperti Susy Susanti, Mia Audina, atau Taufik Hidayat masuk pelatnas dalam usia belasan tahun.

''Dengan demikian pelatnas tidak terbatas pada pemain utama dan pratama, tetapi juga untuk pemain muda. Kalau ada pemain yang brilian meskipun junior, saya ingin mereka masuk pelatnas. Saya juga ingin mematahkan mitos selama ini yang menyebut kalau pembinaan di klub-klub lebih baik daripada di pelatnas,'' sebut Gita.

Sembari melakukan pembinaan, Gita juga akan memperhatikan pendidikan atlet. Para atlet harus diberi bekal pendidikan yang cukup untuk bekal masa mendatang setelah tak berprestasi atau pensiun. Saat ini, dirinya tengah merangkul pakar-pakar pendidikan seperti Johannes Surya, untuk menyusun kurikulum dan program pendidikan yang akan dibangun di Pelatnas Cipayung.

Bicara mengenai pengembangan, Basri Yusuf yang tengah menjadi pelatih di Singapura, juga akan ditarik. Basri harus bisa membuat dearah-daerah bisa melakukan pembinaan dengan baik, agar bisa memasok pemain andal.

''Karena itu segala kebutuhan harus dipenuhi, jaringan daerah dan pembangunan fasilitas harus bisa dipenuhi dulu di 33 provinsi,'' sebutnya. ''Bagian pengembangan ini harus fokus pada pencarian talenta di daerah dengan melibatkan komunitas dan jaringan yang ada,'' ujarnya.

Untuk mewujudkannya, Gita dan jajarannya akan melakukan program desentralisasi pelatnas yang dibangun di wilayah Indonesia Barat, Tengah, dan Timur.

Sementara Kabid Dana dan Usaha yang dipimpin pengusaha, Anton Subowo, menurut tokoh berusia 47 tahun itu, dituntut harus mampu memberdayakan dan mengumpulkan dana. Ini dilakukan untuk mendukung program-program Binpres.

''Karena dana pemerintah itu sangat terbatas, PBSI tidak akan mengandalkan dana dari pemerintah, tetapi saya akan berusaha mencari dana dari kalangan swasta,'' tambah Gita.

Untuk sponsorship, Gita menyebut juga akan dikaji ulang. Ini agar masalah sponsorship lebih terarah untuk kepentingan para pemain.

''Pendeknya, pemain yang lebih berprestasi harus mendapat insentif yang lebih besar dibanding dengan pemain yang tidak berpretasi,'' tegasnya.

''Kalau kita lihat dari sistem kepengurusan, personel, dana, tim yang ada, tinggal mengawalnya dengan benar, maka bisalah mencapai keberhasilan yang direncanakan dalam dua atau tiga tahun ke depan. Asal harus usaha keras,‘’ jelas Gita.

Mengenai gugatan Icuk Sugiarto terhadap keabsahan dirinya selaku nakhoda PBSI terpiih secara aklamasi dalam Munas yang hingga kini terus bergulir di Baori dan Baki, Gita mengharapkan Icuk sudi menghormati proses apapun yang telah terjadi. Apalagi, dirinya bukan bagian dari proses yang terjadi selama Munas PBSI di Yogyakarta silam.

Hanya, Gita menyebut apabila Icuk memang betul-betul ingin menciptakan prestasi bagi perbulutangkisan Indonesia, maka dirinya mengharapkan agar Icuk sudi mengikhlaskan hasil Munas PBSI di Yogyakarta, 20-22 September 2012.

''Apakah Icuk juga beraspirasi agar kita bisa kembali menciptakan prestasi? Kalau memang begitu keadaannya, jika saya berada di posisi dia, saya akan ikhlas,'' tegas Gita. (rs)

Berita Berita Lainnya