Berita / Artikel / Sosok

Tiga Srikandi Harumkan Negeri
Sambut Hari Wanita Dunia

Selasa, 16 Maret 2010 08:07:13
5047 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

Menjadi seorang juara tidak semudah membalikan telapak tangan. Di balik itu semua ada nilai kerja keras dan ketekunan. Setidaknya hal tersebut dibuktikan tiga srikandi bulutangkis Indonesia Ivana Lie, Maria Kristin Yulianti dan Maria Febe Kusumastuti yang telah mengharumkan nama Indonesia dan mengibarkan merah putih di mata dunia.

Berawal dari pembinaan di Perkumpulan Bulutangkis (PB) Djarum, talenta para srikandi terus dipoles. Kecermatan klub terbesar di Indonesia ini membina para atlet binaannya lewat program yang mereka buat membuahkan hasil. Lewat latihan yang cukup ketat, disiplin dan kerja keras hasilnya mereka mampu mengharumkan Negeri di dunia internasional.

Bagi ratu bulutangkis era 80-an Ivana Lie, ada dua faktor yang harus dipenuhi oleh seorang pemain yang ingin sukses menjadi pemain terbaik dunia. Pertama adalah tekad dari dalam diri, kedua mampu menggali nasionalisme. Karena bertanding dengan tekad membela negara akan mampu membangkitkan kekuatan luar biasa.

Ivana tidak hanya asal memberi nasihat. Sebab perempuan kelahiran Bandung, 7 Maret 1960 ini telah membutikan itu sepanjang kariernya sebagai pemain. Ivana kecil terlahir dari keluarga yang sangat sederhana. Dari berjualan kue, membuat layangan dilakukannya hanya untuk menyambung hidup.

Walau dari keluarga yang sangat sederhana semangat hidupnya tinggi. Ia menyukai bulutangkis semenjak kecil, walau awalnya hanya sekedar ikut-ikutan. Berbagai macam kejuaraan tingkat SD pernah diikutinya untuk menguragi beban orang tua.

“Waktu SD saya sering mewakili sekolah untuk mengikuti lomba bulutangkis. Karena sering memenangkan pertandingan saya mendapat keringanan untuk bayar uang sekolah, dari situlah saya termotivasi untuk memfokuskan diri pada bulutangkis,'' ujarnya.

Dari sini dia kemudian bertekad untuk serius berjuang di bulutangkis. Semangat untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga menjadi pendorongnya saat berlatih keras. “Untuk dapat menjadi juara saya harus lebih berlatih keras dan menambah porsi latihan.”

“Dari bulutangkis ekonomi keluarga saya terangkat. Saya menjadi orang yang lebih baik. Sebab hidup saya dari bulutangkis. Hingga sekarangpun hidup saya masih dari bulutangkis,'' terangnya.

Untuk urusan nasionalisme, Ivana tidak hanya asal bicara. Dia telah membuktikan hal itu. Bertahun-tahun Ivana membela nama Indonesia di pentas internasional.

“Sejak 1977 hingga 1992 saya berangkat bertanding ke luar negeri membela nama negara. Jadi duta Indonesia agar Indonesia Raya berkumandang dan Merah Putih berkibar” kata peraih medali emas Sea Games dan Asian Games, juara Belanda Terbuka, juara Indonesia Terbuka, dan juara Piala Dunia ini.

”Satu motivasi saya saat itu, yakni ingin mengharumkan nama bangsa dengan meraih prestasi setinggi-tingginya.”

Kini perjuangannya berlanjut dengan diangkatnya dia sebagai staf khusus di Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga yang di pimpin oleh Menteri Andi Malarangeng. Dikesibukan barunya tersebut ia melanjutkan konsistensinya untuk terus melakukan pembinaan di olahraga yang telah membesarkan namanya.

Profile diri:

Nama : Ivana Lie
Tempat/Tgl. Lahir : Bandung, 7 Maret 1960
Kategori : Tunggal Putri, Ganda Putri, Ganda Campuran
Prestasi : Tunggal Putri
- Juara Indonesia Terbuka 1983
- Juara SEA Games Singapura 1983
- Juara Belanda Terbuka 1979

Ganda Putri
- Juara Indonesia Terbuka 1987
- Juara Indonesia Terbuka 1986

Ganda Campuran
- Juara Ganda Campuran Asian Games 1982
- Juara Ganda Campuran Piala Dunia 1985
Aktifitas Kini : Staf Ahli Olahraga Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga

Maria Kristin Yulianti

Perjuangan mengharumkan negeri juga diteruskan oleh generasi muda Maria Kristin Yulianti. Namanya mulai melambung usai kejuaraan Piala Thomas-Uber 2008 di Jakarta. Penampilan tunggal pertama tim Uber Cup Indonesia ini cukup meyakinkan sehingga berhasil melampaui target untuk masuk ke babak final Uber Cup. Ditambah dengan pencapaiannya melaju ke babak final setelah mengalahkan unggulan kedua asal China Zhang Ning pada babak semifinal Djarum Indonesia Terbuka Super Series 2008.

Tak jarang Gadis kelahiran 25 Juni 1985 ini sering dijuluki The Next Susi Susanti. Padahal sebelum menuju ke Olimpiade Beijing 2008 gadis berkulit coklat ini sempat mengalami cedera, namun dia tetap mantap untuk terus bertanding dan berhasil melampui target dengan meraih medali perunggu. Sungguh bukan merupakan pengorbanan yang sia- sia.

Kemampuan Maria bermain tepok bulu angsa ini bermula dari sang ayah. “Dulu saya sering melihat bapak main bulu tangkis. Dari situ saya mulai ikut-ikutan main saat berusia 10 tahun. Melihat keinginan saya yang besar, selanjutnya Bapak baru memasukkan saya ke Klub Djarum tahun 1998,” kisahnya.

Lewat klub yang telah melahirkan banyak bibit potensial di dunia bulu tangkis inilah gadis berusia 23 tahun ini mulai menunjukkan bakatnya dengan menjuarai berbagai turnamen bulutangkis hingga akhirnya ditarik ke pelatnas tahun 2005. Sementara kejuaraan perdana yang membuat dirinya melenggang menjadi wakil Negara Indonesia, yakni saat Kejuaraan ASEAN School 2002 di Malaysia.

Keikutsertaannya pada Piala Uber sudah dia lakoni sejak 2004 lalu. Pertandingan yang berkesan bagi pemilik tinggi badan 169 cm ini, adalah ketika berlaga pada Piala Sudirman 2003 lalu. Saat itu Maria dapat mengalahkan pemain Inggris yang peringkatnya di atas dirinya.

Sementara laga di Uber Cup 2006 menurutnya merupakan pertandingan yang paling mengecewakan, karena selain baru cedera, permainannya kurang bisa maksimal, sehingga membuat dirinya drop dan tidak bisa mengeluarkan kemampuan dengan maksimal.

Menyinggung hobi di luar bulutangkis, pemilik nama lengkap Maria Kristin Yulianti ini hanya menggelengkan kepala. “Saya tidak punya olahraga kesukaan selain bulutangkis, karena bulutangkis adalah hobi saya. Ke depan saya ingin meningkatkan prestasi dan peringkat dunia lewat berbagai kejuaraan termasuk olimpiade selanjutnya,” tekadnya.

Profile diri:

Nama : Maria Kristin Yulianti
Tempat/Tgl Lahir : Tuban, 25 Juni 1985
Prestasi :
- Juara I Kejurnas 2009
- Semifinalis Sudirman Cup Guangzhou 2009
- Medali Perunggu Olimpiade Beijing 2008
- Juara II Djarum Indonesia Open Super Series 2008
- Juara II Uber Cup Jakarta Mei 2008
- Perempat Finalis Jerman Open Februari 2008
- Medali Emas SEA Games Perseorangan Desember 2007
- Medali Emas SEA Games Tim Putri Desember 2007
- Perempat Finalis Taiwan GP 2007
- 8 Besar Indonesia Open 2007
- Juara II Jerman Open 2006
- Juara I Singapore Satellite 2006
- Juara I Surabaya Satellite 2006

Maria Febe Kusumastuti

Satu lagi pebulutangkis muda potensial adalah Maria Febe Kusumastuti. Gadis kelahiran Boyolali, 30 September 1989 memulai babak baru kariernya di dunia bulu tangkis dengan bergabung di pelatnas Cipayung.

Bahkan dia sudah dipercaya PBSI untuk memperkuat Tim Uber Indonesia di babak kualifikasi zone Asia Februari lalu. “Saya senang bisa dipercaya memperkuat nama Indonesia. Ini merupakan keinginan saya sejak dulu. Tahun 2008 sebenarnya saya dipanggil ikut seleksi. Sayangnya waktu itu sakit, sehingga belum bisa memperkuat Tim Uber,” katanya.

Dipanggilnya Febe ke pelatnas bukan tanpa sebab, prestasi yang diukirnya sepanjang 2009 cukup apik. Bahkan peringkatnya per 31 Desember berada di peringkat 19 dunia BWF (federasi bulutangkis dunia). Atas prestasinya dia baru saja saja memperoleh bonus sebesar Rp 90 juta dari PB Djarum. Tahun ini dia membidik peringkat 15 besar.

''Untuk bisa mencapai peringat tersebut saya harus banyak bermain di kejuaraan super series. Saya juga bermain di kejuaraan All England dan Swiss Super Series tahun ini,'' ujarnya.

Putri pertama Yoshua Bawi Aryawijaya dan Maria Sri Wulandari itu mengaku bangga bisa ikut serta memperkuat tim Uber Indonesia untuk pertama kalinya dan berusaha untuk menjaga agar penampilannya tidak mengecewakan. ''Saya ini kan atlet non-pelatnas yang diikutsertakan ke kejuaraan ini. Jadi takut mengecewakan. Sebisa mungkin saya harus berjuang untuk bisa menyumbang poin,'' ujar pebulutangkis yang telah bergabung dengan PB Djarum sejak kelas enam sekolah dasar.

Maria Febe menggeluti bulutangkis sejak kelas empat sekolah dasar dan total terjun sebagai atlet di usia 12 tahun. Sejak usia tujuh tahun, Maria Febe Kusumastuti sudah gemar berlatih bulutangkis. Kedua orangtuanya kemudian mengirimnya untuk mengikuti latihan bulutangkis di sebuah klub. Sejak usia itu juga Maria Febe sudah mulai kost di rumah pelatihnya di Solo.

''Karena kalau untuk pergi-pulang dari Boyolali-Solo cukup jauh akhirnya saya kost. Kebetulan orangtua saya mendukung,'' ujarnya.

Sejak masuk klub PB Djarum dia total di olahraga tepok bulu angsa itu. ''Saat SD saya masih bisa sekolah dari pagi hingga siang, tapi di SMP hingga SMA saya baru masuk sekolah sehabis latihan pagi sekitar pukul 10.00. Waktu SMA saya sekolah hanya dua hari seminggu,'' Febe melanjutkan.

Karena telah memantapkan diri menjadi seorang atlet, Maria Febe bertekad untuk menjadi atlet andal sehingga dia bisa hidup dari profesinya tersebut. ''Itulah mengapa saya harus berjuang menjadi yang terbaik, karena menjadi atlet adalah pilihan saya saat ini,'' ujar Febe. (Contributed by: Image Dynamics)

Profile diri:

Nama : Maria Febe Kusumastuti
Tempat/Tgl. Lahir : Boyolali, 30 September 1989
Prestasi :
- Juara II Kejurnas 2009
- Juara III India Open Grand Prix 2009
- Juara II New Zealand Open Grand Prix 2009
- Juara I Yonex Australian Open Grand Prix 2009
- Semifinalis Vietnam International Challenge 2009
- Juara I Sirnas Kalimantan 2009
- Juara I Bitburger Open Jerman 2008
- Juara I Beregu Gubernur Cup Kudus 2008
- Juara I Dutch Junior 2007
- Runner Up Jerman Junior 2007
- Juara II MILO 2007
- Quarter Final Italy 2007
- Juara I Brasil 2006

Berita Sosok Lainnya



PB Djarum


Djarum Sirnas 2014

FZ FORZA

Candra Wijaya


We care!


Sportainment

Sosok

Pariwara