Login
Nickname :
Password :
  Registrasi?

Badminton Rules
Medali Olimpiade
Info Kompetisi
Sponsorship

Klub Bulutangkis


Solidarity and Badminton

Badminton Shop Online

Berita / Artikel / Sosok
Tiga Srikandi Harumkan Negeri
Sambut Hari Wanita Dunia
By admin
Selasa, 16-Maret-2010, 08:07:13 4848 klik Send this story to a friend Printable Version
Menjadi seorang juara tidak semudah membalikan telapak tangan. Di balik itu semua ada nilai kerja keras dan ketekunan. Setidaknya hal tersebut dibuktikan tiga srikandi bulutangkis Indonesia Ivana Lie, Maria Kristin Yulianti dan Maria Febe Kusumastuti yang telah mengharumkan nama Indonesia dan mengibarkan merah putih di mata dunia.
Bulutangkis.com - Menjadi seorang juara tidak semudah membalikan telapak tangan. Di balik itu semua ada nilai kerja keras dan ketekunan. Setidaknya hal tersebut dibuktikan tiga srikandi bulutangkis Indonesia Ivana Lie, Maria Kristin Yulianti dan Maria Febe Kusumastuti yang telah mengharumkan nama Indonesia dan mengibarkan merah putih di mata dunia.

Berawal dari pembinaan di Perkumpulan Bulutangkis (PB) Djarum, talenta para srikandi terus dipoles. Kecermatan klub terbesar di Indonesia ini membina para atlet binaannya lewat program yang mereka buat membuahkan hasil. Lewat latihan yang cukup ketat, disiplin dan kerja keras hasilnya mereka mampu mengharumkan Negeri di dunia internasional.

Bagi ratu bulutangkis era 80-an Ivana Lie, ada dua faktor yang harus dipenuhi oleh seorang pemain yang ingin sukses menjadi pemain terbaik dunia. Pertama adalah tekad dari dalam diri, kedua mampu menggali nasionalisme. Karena bertanding dengan tekad membela negara akan mampu membangkitkan kekuatan luar biasa.

Ivana tidak hanya asal memberi nasihat. Sebab perempuan kelahiran Bandung, 7 Maret 1960 ini telah membutikan itu sepanjang kariernya sebagai pemain. Ivana kecil terlahir dari keluarga yang sangat sederhana. Dari berjualan kue, membuat layangan dilakukannya hanya untuk menyambung hidup.

Walau dari keluarga yang sangat sederhana semangat hidupnya tinggi. Ia menyukai bulutangkis semenjak kecil, walau awalnya hanya sekedar ikut-ikutan. Berbagai macam kejuaraan tingkat SD pernah diikutinya untuk menguragi beban orang tua.

“Waktu SD saya sering mewakili sekolah untuk mengikuti lomba bulutangkis. Karena sering memenangkan pertandingan saya mendapat keringanan untuk bayar uang sekolah, dari situlah saya termotivasi untuk memfokuskan diri pada bulutangkis,'' ujarnya.

Dari sini dia kemudian bertekad untuk serius berjuang di bulutangkis. Semangat untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga menjadi pendorongnya saat berlatih keras. “Untuk dapat menjadi juara saya harus lebih berlatih keras dan menambah porsi latihan.”

“Dari bulutangkis ekonomi keluarga saya terangkat. Saya menjadi orang yang lebih baik. Sebab hidup saya dari bulutangkis. Hingga sekarangpun hidup saya masih dari bulutangkis,'' terangnya.

Untuk urusan nasionalisme, Ivana tidak hanya asal bicara. Dia telah membuktikan hal itu. Bertahun-tahun Ivana membela nama Indonesia di pentas internasional.

“Sejak 1977 hingga 1992 saya berangkat bertanding ke luar negeri membela nama negara. Jadi duta Indonesia agar Indonesia Raya berkumandang dan Merah Putih berkibar” kata peraih medali emas Sea Games dan Asian Games, juara Belanda Terbuka, juara Indonesia Terbuka, dan juara Piala Dunia ini.

”Satu motivasi saya saat itu, yakni ingin mengharumkan nama bangsa dengan meraih prestasi setinggi-tingginya.”

Kini perjuangannya berlanjut dengan diangkatnya dia sebagai staf khusus di Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga yang di pimpin oleh Menteri Andi Malarangeng. Dikesibukan barunya tersebut ia melanjutkan konsistensinya untuk terus melakukan pembinaan di olahraga yang telah membesarkan namanya.

Profile diri:

Nama : Ivana Lie
Tempat/Tgl. Lahir : Bandung, 7 Maret 1960
Kategori : Tunggal Putri, Ganda Putri, Ganda Campuran
Prestasi : Tunggal Putri
- Juara Indonesia Terbuka 1983
- Juara SEA Games Singapura 1983
- Juara Belanda Terbuka 1979

Ganda Putri
- Juara Indonesia Terbuka 1987
- Juara Indonesia Terbuka 1986

Ganda Campuran
- Juara Ganda Campuran Asian Games 1982
- Juara Ganda Campuran Piala Dunia 1985
Aktifitas Kini : Staf Ahli Olahraga Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga

Maria Kristin Yulianti

Perjuangan mengharumkan negeri juga diteruskan oleh generasi muda Maria Kristin Yulianti. Namanya mulai melambung usai kejuaraan Piala Thomas-Uber 2008 di Jakarta. Penampilan tunggal pertama tim Uber Cup Indonesia ini cukup meyakinkan sehingga berhasil melampaui target untuk masuk ke babak final Uber Cup. Ditambah dengan pencapaiannya melaju ke babak final setelah mengalahkan unggulan kedua asal China Zhang Ning pada babak semifinal Djarum Indonesia Terbuka Super Series 2008.

Tak jarang Gadis kelahiran 25 Juni 1985 ini sering dijuluki The Next Susi Susanti. Padahal sebelum menuju ke Olimpiade Beijing 2008 gadis berkulit coklat ini sempat mengalami cedera, namun dia tetap mantap untuk terus bertanding dan berhasil melampui target dengan meraih medali perunggu. Sungguh bukan merupakan pengorbanan yang sia- sia.

Kemampuan Maria bermain tepok bulu angsa ini bermula dari sang ayah. “Dulu saya sering melihat bapak main bulu tangkis. Dari situ saya mulai ikut-ikutan main saat berusia 10 tahun. Melihat keinginan saya yang besar, selanjutnya Bapak baru memasukkan saya