Login
Nickname :
Password :
  Registrasi?

Badminton Rules
Medali Olimpiade
Info Kompetisi
Sponsorship

Klub Bulutangkis


Solidarity and Badminton

Badminton Shop Online

 
BADMINI, Jembatan Awal Mengakrabi Bulutangkis
Badmini, yang resmi diperkenalkan oleh si penggagas, Ivana Lie, di arena kejuaraan nasional (kejurnas) tahun 2005. Ivana, ratu bulu tangkis di era 1980-an, menciptakan olahraga itu terutama memang untuk khalayak anak- anak.
Dia berharap badmini dapat menjadi sarana pertama dan jembatan untuk mengantarkan anak-anak Indonesia generasi abad ke-21 untuk kembali akrab dengan olahraga andalan Indonesia, bulutangkis.

Ivana menjelaskan ide olahraga ciptaannya tersebut. Inilah petikan perbincangan Kompas dengan mantan ratu bulu tangkis itu.

Bagaimana gagasan badmini ini terbentuk?

Sebenarnya gagasan ini mulai terpikir cukup lama. Sudah lama aktivitas saya melatih dan banyak di antara yang saya latih adalah anak-anak. Dari pengalaman itu, saya melihat sebagian besar anak-anak mengalami banyak kendala. Antara lain anak-anak itu kelihatan tidak proporsional dengan raket, raket terutama adalah kendala yang pertama. Akibat menggunakan raket orang dewasa yang tidak proporsional, banyak teknik-teknik yang dilakukan jadi salah.

Saya pernah bilang, kalau anak-anak pakai raket yang panjang, untuk menemukan titik pukul yang benar, titik itu akan jauh dari badan dia. Karena itu sulit, akhirnya si anak menunggu (luncuran kok- Red) lebih dekat. Nah, kalau tunggu lebih dekat, sikunya jadi harus membengkok dan ini awal teknik yang salah. Kendala raket yang lebih panjang itu terus membentuk kesalahan dan akhirnya susah memperbaikinya. Lapangan yang besar juga membuat permainan menjadi kurang menarik karena jangkauan untuk mencapai kok terlalu jauh, memukulnya, dari ujung ke ujung, juga terlalu jauh, terlalu memaksakan.

Belum tentu setiap anak bisa memukul sejauh itu. Akibatnya, waktu dia memukul, dia memukul dengan seluruh kekuatan badannya, seluruh tenaganya, seluruh ayunan. Padahal, kan kunci kekuatan pukul dalam bulutangkis itu juga terletak bagaimana memanfaatkan force (tenaga luncuran kok). Dengan lapangan yang lebih kecil dan tinggi net yang lebih rendah, anak-anak juga dapat merasa mampu melakukan smes dengan lebih keras

Kapan pengamatan dan analisis-analisis tersebut mengkristal menjadi sebuah badmini?

Itu kira-kira pada saat saya mulai melatih di pelatnas (pemusatan latihan nasional bulu tangkis di Pusat Bulutangkis Indonesia, Cipayung-Red) tahun 2002. Pada tahun 1999- 2000 ide membuat badmini sesungguhnya sudah mulai terbentuk, tetapi belum terasah karena saya lebih banyak sendiri. Di pelatnas saya banyak berdiskusi dengan orang-orang, dengan teman-teman seperti Oktav (Oktavianus Matakupan- pelatih fisik pelatnas PBSI-Red) dan ide itu mulai berkembang. Pastinya ide ini mulai menggelinding adalah saat saya mulai berhenti melatih di pelatnas tahun 2004. Jadi, cukup lama mengendap sebenarnya sekitar tiga-empat tahunan.

Selain ukuran yang lebih kecil, badmini juga memodifikasi sejumlah aturan permainan dalam bulu tangkis? Tujuan utama permainan bagi anak-anak adalah bagaimana permainan itu menarik. Untuk tujuan itulah modifikasi disusun, seperti skor dibuat ada bonus bagi yang dapat langsung mematikan lawan lewat servis atau pengembalian servis dan adanya kotak bonus. Kenapa ada bonus? Ini permainan anak-anak, mereka tidak terlalu dituntut stamina yang prima, tetapi lebih pada bagaimana dapat belajar teknik dan belajar menerima nilai-nilai olahraga seperti reward dan punishment dan ketaatan pada aturan.

Adanya reward dan punishment semakin dipertegas dengan beda yang sangat sedikit. Misalnya lewat kotak bonus yang ada di sudut lapangan atau antara garis servis masuk dan garis keluar. Pada dua contoh itu hasil pukulan yang masuk atau keluar bisa sangat tipis. Kalau bolanya masuk, dia dapat penghargaan angka. Kalau kemasukan, dia memperoleh hukuman dan lawan dapat angka. Dengan adanya rangsangan itu, permainan juga jadi lebih fun. Sesuai dengan usia mereka, permainan perlu dibuat lebih menarik saja.

Badmini adalah olahraga baru. Bagaimana dengan peralatan, terutama raket yang ukurannya lebih pendek dari raket bulu tangkis?

Untuk waktu dekat saya sudah mulai kerja dengan perusahaan lokal. Agak telat, tetapi dalam dua minggu saya harap perlengkapan sudah tersedia di Jakarta. Di Manado (Senin, 31/1)-saat itu Ivana diminta ikut bersama Ketua Pengurus Besar Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PB PBSI) Sutiyoso yang melakukan perjalanan dinas ke Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan-saya melakukan sedikit demo, dan ada banyak pertanyaan mengenai badmini dan peralatannya. Untuk pengadaan bisa beli lewat saya. Di samping itu, perusahaan di mana saya bekerja sama juga punya jaringan, toko- toko.

Saya dengar sudah dicobakan pada beberapa klub? Bagaimana tanggapannya?

Saya banyak tanya teman-teman soal badmini. Paling yang harus dievaluasi, dipikirkan, adalah batasan usia. Misalnya apakah lebih cocok bagi anak usia enam tahun ke bawah atau 10 tahun ke bawah, mungkin yang 11-12 sudah cocok menggunakan raket orang dewasa. Saya juga punya pikiran yang sama, pada anak 11-12 tahun sudah bisa pakai raket orang dewasa. Kalau adaptasi dari lapangan kecil ke besar saya tidak khawatir. Dalam jangka waktu seminggu bisa, bukan waktu yang panjang lah. Adaptasi raket dari kecil ke panjang juga saya tidak khawatir, sejauh si anak menguasai teknik dengan benar.

Ini jauh lebih mudah dibandingkan bila si anak telah terbiasa melakukan kesalahan dalam teknik. Memperbaiki teknik jauh lebih susah. Saya bicara dengan beberapa pelatih, satu per satu. Tanggapan mereka sejauh ini baik. Umumnya diskusi yang panjang terjadi menyangkut soal batasan usia, tetapi umumnya disepakati untuk anak-anak.

Sudah memikirkan kendala?

Namanya sesuatu yang baru, perlu sosialisasi dulu sebelum ada output-nya. Di awal mungkin agak sulit untuk mengajak orang, misalnya klub, untuk membuat garis lapangan yang baru, mungkin belum tentu mau. Saya pikir, pendapat yang bertentangan mengenai perlunya badmini juga pasti ada dan itu tidak mengapa. Tetapi, dengan sosialisasi lewat mendatangi, memperkenalkan, berdiskusi dengan masyarakat bulutangkis dan sama-sama mencoba, semua akan bisa mencapai titik temu. Tentu saja meyakinkan orang bahwa badmini itu bagus tidak bisa dalam waktu sekejap. Hasilnya mungkin baru terasa dua-tiga tahun kemudian.

Sudah ada rencana untuk menyosialisasikan ke daerah-daerah?

Rencana sudah dibuat. Selain ke klub-klub bulu tangkis, saya juga ingin masuk ke sekolah-sekolah. Pemassalan itu bagus bila dilakukan lewat sekolah. Bisa jalannya, tergantung dapat sponsor atau tidak. Bagi sponsor, saya rasa olahraga baru ini cukup menarik. Apalagi badmini bisa jadi kendaraan untuk mempromosikan image dan produk si sponsor. Mudah-mudahan pekan ini atau pekan depan ada berita bagus (dari sponsor-Red). Begitu ada deal, kami mulai jalan.

Bagaimana caranya masuk ke sekolah-sekolah yang begitu banyak jumlahnya?

Awalnya, kami berencana merangkainya dalam satu kegiatan ekshibisi. Di Jakarta, misalnya, bisa dicoba dengan ikut mendatangkan pemain nasional seperti Taufik Hidayat atau artis cilik. Berita adanya kegiatan itu sebelumnya disebar dan diinformasikan ke sekolah dan khalayak. Rencana awal, tahun ini kami ingin memperkenalkan badmini ke 10 ibu kota provinsi. Setelah itu baru lebih spesifik masuk ke sekolah-sekolah di Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Ini sebuah pekerjaan besar dan lama, Anda siap?

Ya, dan saya inginnya juga tak sendiri. Saya ingin ajak teman- teman mantan pemain nasional untuk ikut bergabung.

Sumber : www.kompas.com

Lebih jauh Badmini: www.badmini-indonesia.com