Berita > Artikel

Kolom Hendri Kustian
Antara Indonesia, Swiss dan Swiss Open

Senin, 10 Maret 2008 09:54:42
1399 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

Oleh: Hendri Kustian

Pada turnamen superseries keempat tahun ini di Swiss, pemain top dunia berduyun-duyun mengikutinya. Swiss Open Superseries menjadi sangat penting karena merupakan salah satu turnamen akhir yang pointnya mempengaruhi perebutan tiket menuju Olimpiade Beijing. Kekuatan klasik bulutangkis dunia seperti China, Indonesia, Malaysia, Korea dan Demark menurunkan pemain terbaiknya. Menjelang turnamen yang berlangsung tanggal 11-16 Maret ini, kolom ini mengangkat tema hubungan segitiga antara Indonesia, Swiss dan Swiss Open.

Indonesia dengan Swiss memang tidak ada kerja sama formal yang terjalin antara kedua negara dalam hal bulutangkis. Tetapi ternyata Swiss menjadi tambatan hati beberapa pemain Indonesia dalam berkarir. Pada drawing turnamen babak kualifikasi terdapat tiga nama Indonesia tampil dengan bendara Swiss. Mereka adaalah Yohannes Hogianto yang tampil dinomor ganda putra berpasangan dengan Hafiz Shaharudin (SWZ) dan ganda campuran yang berpasangan dengan Alexandra Walaszek (POL), Agung Rohanda yang berpasangan dengan pemain Swiss, Simon Erkerli serta mantan pemain pelatnas, Cynthia Tuwankotta yang tampil dinomor ganda putri.

Selain pemain yang tampil di Swiss Open 2008, pada daftar WBF masih terdapat nama Indonesia lainnya yang berbendera Swiss yaitu Dwi Aryanto, Gita Djayawasito, dan Santi Wibowo. Nama terakhir merupakan pemain asal Indonesia yang paling banyak membela Swiss dalam berbagai turnamen. Sepanjang 2002 - 2004, Santi sudah mewakili Swiss dalam 32 turnamen resmi WBF dengan prestasi terbaik menjadi Semifinalis Iran Fajr Internasional 2004 di nomor tunggal putri. Namun berbicara prestasi maka Cynthia Tuwankotta yang paling berprestasi selama membela Swiss. Di nomor ganda putri, Chyntia yang berpasangan dengan Atu Rosalina berhasil menjadi juara Austrian Internasional 2004 dan semifinalis Norwegian Internasional 2004 bersama Huwaina Razi. Sedangkan dinomor ganda campuran, Cynthia menjadi juara Swedian Internasional 2006 dan semifinalis Van Zundert Veto Dutch Open International 2006 berpasangan dengan Imam Sodikin.

Hubungan antara Swiss dan Swiss Open tidak hanya sekedar hubungan turnamen dan negara penyelenggaranya tetapi Swiss Open merupakan ajang bagi pemain Swiss untuk masuk ke jajaran atas bulutangkis dunia. Prestasi Swiss pada turnamen ini cukup baik pada awal penyelenggaraan tahun 1955 dengan merebut tunggal putri melalui pemainnya E Muller. Pada tahun tersebut yang hanya mempertandingkan tiga nomor, gelar juara lainnya diborong Malaysia melalui Eddy Chong (tunggal putra) dan Eddy Choong / L.T Lee (ganda putra). Tahun berikutnya 1956, Swiss merebut dua gelar juara melalui E Muller (tunggal putri) dan T. Haberfeld / D. Hager (ganda campuran). Setelah vakum juara beberapa tahun, Swiss kembali berhasil merebut gelar juara melalui Heinz Honegger yang berpasangan dengan pemain Denmark Tage Nilesen pada tahun 1964-1965 yang dilanjutkan dengan pemain tunggal putri Jose Carrel tahun 1971. Prestasi terbaik yang dicapai peroleh oleh pemain Swiss melalui pemain tunggal putri lainnya Liselotte Blumer yang menjuarai turnamen ini sebanyak enam kali (1975, 1977, 1979, 1980, 1981 dan 1984). Pencapaian tersebut masih merupakan rekor gelar juara terbanyak dalam turnamen ini.

Indonesia sendiri dalam Swiss Open baru mulai mencatatkan diri sebagai juara mulai era 90-an. Diawali oleh Joko Suprianto yang menjadi juara tunggal putra tahun 1992, dilanjutkan dengan dua gelar tahun berikutnya melalui Fung Permadi (tunggal putra) daan Yuliani Sentosa (tunggal putri). Pada tahun 1999, Indonesia kembali menempatkan pemain tunggal putrinya sebagai juara melalui Chindana Hartono lalu tunggal putra Marleve Mainaky pada tahun 2002. Terakhir Indonesia meraih gelar juara tahun 2003 melalui pasangan ganda putra Chandra Wijaya / Sigit Budiarto. Tahun lalu, ketika pertama kali Swiss Open menjadi bagian dari turnamen superseries, Indonesia hanya berhasil merebut dua posisi runner up yang diperoleh oleh Simon Santoso dan pasangan M. Rizal / Greysia Polli. Pada pertandingan final Simon harus mengakui keunggulan pemain China, Chen Jin. Sedangkan Rizal / Polli menderita kekalahan dari pasangan Korea, Lee Young Dae / Lee Hyo Jung.

Sedikit keunikan terjadi bagi pemain Indonesia yang eksodus ke luar negeri. Selain menjadi juara pada tahun 1993 saat memperkuat Indonesia, Fung Permadi juga menjadi juara tahun 1999 saat berbendera China Taepei. Jejak Fung kemudian diikuti oleh Mia Audina yang menjadi juara dengan memperkuat tim Belanda tahun 2002. Satu lagi gelar juara yang diperoleh pemain Indonesia saat tidak memperkuat skuat tanah kelahirannya terjadi pada nomor ganda putra. Pasangan Flandy Limpele / Eng Hian berhasil menjadi juara padaa tahun 2003 ketika turun dengan bendera Inggris.

(badminton-indonesia@yahoogroups.com)

Berita Artikel Lainnya